A.
Pengertian
Edutaiment
Edutainment adalah akronim dari kata education dan entertainment. Education
artinya pendidikan dan entertainment artinya hiburan. Education
dalam “The Routledge Dictionary of Quotations” memiliki beberapa arti,
antara lain :
1.
Menurut Robert frost : “ Education
is the ability to listen to almost anything without losing your temper or your
self confidence
2.
Menurut Oscar Wilde (1854-1900) : “ Education
is an admirable thing, but it is well to remember from time to time that
nothing that is worth knowing can be taught “
3.
Menurut George Savile, Lord Halifax
(1633-1695) : “ Education is what remains when we have forgotten all that we
have been taught” ( Andrews, 1987: 79).
Dengan demikian edutainment memiliki arti pendidikan yang
menyenangkan. Sedangkan secara terminology, edutainment as a form of
entertainment that is designed to be educational. Juga bisa diartikan bahwa
edutainment allows children to learn through play. Sedangkan secara
epistemologis edutainment dapat dimaknai sebagai pembelajaran yang
memberi kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat dan menikmati
proses pembelajaran yang rileks, menyenangkan dan bebas dari tekanan,
baik fisik maupun psikis.( Setiawan, 2010)
Adapun kata “
Belanbe “ merupakan singkatan dari belajar dan bermain. Bagi seorang
anak, bermain adalah “pekerjaannya”. Bagi mereka, bermain tidak hanya
menyenangkan, tetapi juga dibutuhkan bagi perkembangannya. Melalui bermain,
anak belajar mengendalikan tubuhnya, mengembangkan keseimbangan dan koordinasi
otak, mata dan anggota badan. Melalui bermain, ia menjelajahi dunia materi,
mengumpulkan fakta, dan belajar berfikir.
Sejak
dahulu, para ahli memandang arti penting bermain bagi anak-anak. Seperti yang
dikemukakan oleh Filosof Plato bahwa bermain dapat dijadikan media belajar yang
baik. Begitu pula Aristoteles berpendapat bahwa anak-anak perlu didorong untuk
bermain dengan apa yang akan mereka tekuni nanti. Menurut dia, bermain memiliki
nilai praktis, yakni sebagai media untuk meningkatkan keterampilan dan
kemampuan tertentu pada anak (Pedak, 2009 :145).
Bermain
merupakan metode belajar dalam kesadaran anak untuk menjadikannya orang yang
bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan. Orang tua atau guru yang melarang
anak atau peserta didiknya bermain, berpotensi mengacaukan perkembangan anak
atau peserta didiknya.
Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa metode Edutainment Belanbe adalah
suatu metode pembelajaran berbasis kompetensi yang aktif dan efisien, dirancang
melalui suatu prinsip permainan dengan menggunakan alat peraga yang bisa
menghibur. Konsep itu meliputi dua kepentingan anak-anak yakni bermain
dan belajar
B.
Konsep Edutainment
Belanbe
Konsep dasar
edutainment Belanbe berupaya agar pembelajaran yang terjadi berlangsung
dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan. Ada tiga asumsi yang menjadi
landasannya , yaitu :
1.
Perasaan positif (senang/gembira)
akan mempercepat pembelajaran, sedangkan perasaan negatif seperti sedih, takut,
terancam dan merasa tidak mampu, akan memperlambat belajar atau bahkan bisa
menghentikannya sama sekali. Dan upaya menciptakan kondisi ini, maka konsep edutainment
belanbe mencoba memadukan dua aktivitas yang tadinya terpisah dan tidak
berhubungan, yakni pendidikan dan hiburan atau belajar dan bermain.
2.
Jika seseorang mampu menggunakan
potensi nalar dan emosinya jitu, maka ia akan membuat loncatan prestasi belajar
secara berlipat ganda, hal ini merupakan peluang dan sekaligus tantangan yang menggembirakan
bagi kalangan pendidik.
3.
Apabila setiap pembelajaran dapat
dimotivasi dengan tepat dan diajar dengan cara yang benar, cara yang menghargai
gaya belajar dan modalitas mereka, maka mereka semua akan dapat mencapai hasil
belajar maksimal dan optimal. Pendekatan yang digunakan adalah membantu siswa
untuk bisa mengerti kekuatan dan kelebihan mereka, sesuai dengan gaya belajar
mereka masing-masing. Peserta didik akan diperkenalkan dengan cara dan proses
belajar yang benar, sehingga mereka akan belajar secara benar sesuai gaya
belajar mereka masing-masing.
Berdasarkan kajian terhadap berbagai literatur, maka ada beberapa teori
belajar yang relevan dan mendukung konsep Edutainment Belanbe, yaitu :
1.
Teori Pembelajaran Aktif ( Active
Learning Theory).
Teori ini menyatakan bahwa belajar hendaknya melibatkan multiindera dan
dilaksanakan dengan menggunakan variasi metode pembelajaran.
2.
Teori Belajar Akselerasi (The
Accelerated Learning Theory).
Teori ini menyatakan bahwa pembelajaran itu harus dirancang agar
berlangsung secara tepat, menyenangkan, dan memuaskan.
3.
Teori Revolusi Belajar (The
Learning Revolution Theory).
Pada teori ini lebih menekankan pada suasana yang kondusif, yakni suasana
relaks, tidak tegang, dan bebas dari tekanan.
4.
Teori Belajar Quantum (Quantum
Learning Theory).
Penekanan teori ini terdapat pada pencapaian ketenangan dan berfikiran
positif sebelum belajar.
5.
Teori Belajar dengan bekerjasama (Cooperatif
Learning).
Teori ini berdasar pada konsep pembelajaran yang berdasarkan pada penggunaan
kelompok-kelompok kecil siswa, sehingga mereka dapat menjalin kerja sama untuk
memaksimalkan kelompoknya dan masing-masing melakukan pembelajaran.
6.
Teori Kecerdasan Majemuk.
Teori ini
dikemukakan oleh Howard Gardner, yang menyatakan bahwa ada keberagaman otak
yang meliputi kecerdasan verbal/linguistic, musical/ritmis, logis/matematis,
visual/spasial, jasmaniah/kinestetik, intrapersonal/interpersonal, dan
naturalis (Anonim 2010).
C. Karakteristik
dari konsep Edutainment Belanbe
Berdasarkan
enam konsep (teori) belajar tersebut, maka bisa ditemukan beberapa
prinsip yang menjadi karakteristik dari konsep Edutainment Belanbe,
yaitu :
1.
Konsep Edutainment Belanbe
adalah suatu rangkaian pendekatan dalam pembelajaran untuk menjembatani jurang
yang memisahkan antara proses mengajar dan proses belajar, sehingga diharapkan
bisa meningkatkan motivasi dan hasil belajar.
2.
Konsep dasar Edutainment
Belanbe, seperti halnya konsep belajar akselerasi, berupaya agar pembelajaran
yang terjadi berlangsung dalam suasana yang kondusif dan menyenangkan.
3.
Konsep Edutainment Belanbe
menawarkan suatu sistem pembelajaran yang dirancang dengan jalinan yang
efisien, meliputi diri peserta didik, guru, proses pembelajaran dan
lingkungan pembelajaran.
4.
Proses dan aktivitas pembelajaran
tidak lagi tampil dalam wajah yang “menakutkan”, tetapi dalam wujud yang
humanis dan dalam interaksi edukatif yang terbuka dan menyenangkan.
Berdasarkan empat karakteristik Edutainment
Belanbe yang melandasi berbagai praktek pembelajaran yang menyenangkan, maka
karakteristis pembelajaran yang menyenangkan itu antara lain : Adanya
lingkungan belajar nyaman dan mendukung suasana pembelajaran yang gembira dan
menyenangkan, materi pembelajaran yang relevan dan bermakna, pembelajaran bersifat
sosial, membuat jalinan kerjasama diantara siswa, hakikat belajar adalah
memahami dan menciptakan sendiri makna dan nilai yang dipelajari dan menjadikan
aktivitas fisik sebagai bagian dari proses belajar .
D. Media
Pembelajaran dalam Metode Edutainment Belanbe
Menurut Oemar Hamalik sebagaimana yang dikatakan oleh Bovee (1997) dalam
bukunya Hujair AH. Sanaki bahwa media adalah sebuah alat yang mempunyai fungsi
menyampaikan pesan. Sedangkan media pembelajaran adalah proses komunikasi
antara pembelajar, pengajar dan bahan ajar(Sanaki, 2009: 3)
Adapun media
pembelajaran yang digunakan dalam metode Edutainment Belanbe
antara lain :
1. Alat-alat
audio – visual , alat-alat yang tergolong ke dalam kategori ini, yaitu: media
proyeksi (overhead projector, slide, film dan LCD), media non - proyeksi
(papan tulis, poster, papan tempel, kartun, papan planel, komik, bagan,
diagram, gambar, grafik dan lain-lain), benda tiga dimensi antara lain benda
tiruan, diorama, boneka, topeng, peta, globe, pameran dan museum.
2. Media yang
menggunakan teknik atau masinal, yaitu slide, film strif, film rekaman, radio,
televisi, VCD, laboratorium elektronik, perkakas otoinstruktif, ruang kelas
otomatis, internet, dan komputer
3. Contoh-contoh
kelakuan, perilaku pengajar. Dalam
proses pembelajaran pendidikan agama Islam, contoh dan kelakuan pengajar
dimaksud adalah memberi uswatun khasanah kepada pembelajar (Sanaki, 2009:38-39)
E. Pendekatan
pembelajaran Edutainment
Dalam metode pembelajaran Edutainment, terdapat
beberapa pendekatan belajar yaitu Somatik, Auditori, Visual dan Intelektual
atau lebih dikenal dengan istilah SAVI. Ke empat cara belajar ini harus ada
agar berlangsung optimal. Karena unsur-unsur ini semuanya terpadu, belajar yang
paling baik bisa berlangsung jika semuanya itu digunakan secara simultan.
Adapun dalam pengelolaan dengan menggunakan cara belajar SAVI ini, yaitu:
1.
Cara Belajar Somatic.
“Somatic” berasal dari bahasa Yunani yang berarti tubuh (soma). Jadi,
belajar somatic berarti belajar dengan menggunakan indra peraba, Anesthetic,
praktis yang melibatkan fisik dan menggunakan serta menggerakkan tubuh sewaktu
belajar. Atau dikenal dengan istilah Kinesthetic (gerakan). Somatic disini juga
dinamakan dengan “learning by moving and doing” (belajar dengan belajar
dan bergerak) jadi cara belajar somatic adalah pola pembelajaran yang lebih
menekankan pada aspek gerak tubuh atau belajar dengan melakukan.
Untuk merangsang pikiran tubuh, ciptakanlah suasana
belajar yang dapat membuat orang bangkit dan berdiri dari tempat duduk dan
aktif secara fisik dari waktu ke waktu. Tidak semua pembelajaran memerlukan
aktifitas fisik, tetapi dengan berganti-ganti menjalankan aktivitas belajar
aktif dan pasif secara fisik, akan membantu pembelajaran pada setiap peserta
didik. Jadi antara tubuh dan otak (pikiran) adalah satu dan harus saling
mengiringi, karena pikiran tersebar di seluruh tubuh dan terbukti tubuh tidak
akan bergerak jika pikiran tidak beranjak.
Somatic melibatkan aktivitas fisik selama berlangsungnya aktivitas belajar.
Duduk terlalu lama, baik di dalam kelas maupun di depan komputer akan dapat
menghasilkan tenaga. Akan tetapi jika berdiri, bergerak kesana kemari, dan
melakukan sesuatu secara fisik dari waktu ke waktu membuat seluruh tubuh terlibat,
memperbaiki sirkulasi otak dan meningkatkan pembelajaran.
2.
Cara Belajar Auditori.
Auditori adalah belajar berbicara dan mendengarkan atau dikenal dengan
istilah “Learning By Talking And Learning”. Jadi belajar auditif adalah cara
belajar yang menekankan pada aspek pendengaran. Peserta didik akan cepat
belajar jika materi yang disampaikan dengan ceramah atau alat yang dapat
didengar.
Pikiran Auditori yang kita miliki akan lebih kuat dari pada yang kita
sadari. Telinga kita terus menerus menangkap dan menyimpan informasi Auditori,
bahkan tanpa kita sadari. Dan ketika kita membuat suara sendiri dengan
berbicara, beberapa area penting di otak kita menjadi aktif.
Dalam merancang pelajaran yang menarik bagi seluruh auditori yang kuat dalam
diri siswa, maka usahakan mencari cara untuk mengajak mereka membicarakan apa
yang sedang mereka pelajari. Suruh mereka menterjemahkan pengalaman mereka
dengan suara, atau dengan membaca keras-keras secara dramatis. Dengan cara ini
setidaknya siswa lebih mudah mengingat dan dapat belajar dengan cepat jika
materinya disampaikan secara belajar auditori. Karena dengan belajar
auditori dapat merangsang kortes (selaput otak), indera dan motor (serta
area otak lainnya) untuk memadatkan dan mengintegrasikan pembelajar (siswa).
3.
Cara belajar visual.
Visual disini diartikan belajar dengan mengamati dan menggambarkan atau
disebut dengan istilah “Learning By Observing And Picturing”. Adapun cara
belajar siswa adalah cara belajar yang menekankan pada aspek penglihatan.
Peserta didik akan cepat menangkap materi pelajaran jika disampaikan dengan
tulisan atau melalui gambar.
Ketajaman visual sangat kuat dalam diri setiap orang. Alasannya bahwa di
dalam otak terdapat lebih banyak perangkat untuk memproses informasi visual
dari pada semua indera yang lain. Faktanya orang-orang yang menggunakan
pencitraan (simbol) untuk mempelajari teknis dan ilmiah memperoleh nilai 12 %
lebih baik untuk ingatan jangka pendek dibanding dengan mereka yang tidak
menggunakan pencitraan, dan 2 % lebih baik untuk ingatan jangka panjang. Dalam
hal ini berlaku bagi setiap orang tanpa memandang usia, etnis, gender atau gaya
belajar yang dipilih.
Setiap orang terutama pembelajaran visual lebih mudah belajar jika dapat
“melihat” apa yang sedang dibicarakan seorang penceramah atau sebuah buku atau
program komputer. Bagi pelajar visual belajar paling baik jika mereka dapat
melihat contoh dari dunia nyata, diagram, peta gagasan, gambar dan gambaran
dari segala macam hal ketika merek sedang belajar. Teknik-teknik lain yang bisa
dilakukan semua orang terutama siswa dengan keterampilan siswa yang kuat adalah
dengan mengamati situasi dunia nyata lalu memikirkan serta membicarakan situasi
itu, menggambarkan proses, prinsip atau makna dari apa yang dicontohkan.
Visual mencakup melihat, menciptakan dan mengintegrasikan segala macam
citra komunikasi visual lebih kuat dari pada komunikasi verbal karena manusia
mempunyai lebih banyak peralatan di kepala mereka untuk memproses informasi
visual dari pada indera lainnya.
4.
Cara belajar intelektual
Kata “intelektual” menunjukkan apa yang dilakukan pembelajaran dalam
pikiran mereka secara internal ketika menggunakan kecerdasan untuk merenungkan
suatu pengalaman dan menciptakan hubungan makna, rencana dan nilai dari pengalaman
tersebut. Intelektual adalah bagian diri yang merenung, mencipta, memecahkan
masalah dan membangun diri.
Jadi intelektual adalah pencipta makna dalam pikiran, sarana yang digunakan
manusia untuk berfikir, menyatukan pengalaman mental, fisik, emosional dan
intuitif tubuh untuk membuat makna baru bagi dirinya sendiri. Itulah sarana
yang di gunakan pikiran untuk mengubah pengalaman menjadi pengetahuan,
pengetahuan menjadi pemahaman dan pemahaman menjadi kearifan. Peserta didik
akan menguasai materi pelajaran jika pengalaman belajar diatur sedemikian rupa
sehingga ia mempunyai kesempatan untuk membuat suatu refleksi penghayatan,
mengungkapkan dan mengevaluasi apa yang dipelajari. Pengalaman belajar juga
hendaknya menyediakan proporsi yang seimbang antara pemberian informasi dan
penyajian terapannya.
Intelektual juga disebut dengan “Learning By Program And Reflecting”
maksudnya yaitu belajar dengan pemecahan masalah. Jadi cara belajar intelektual
adalah cara belajar yang lebih menekankan pada aspek penalaran atau logika. Dan
peserta didik akan cepat menangkap materi jika pembelajaran dirancang dengan
menekankan pada aspek mencari solusi pemecahan. Jika dalam pelatihan belajar sisi intelektual belajar dilibatkan maka
kebanyakan orang dapat menerima pelatihan yang banyak memasuki unsur bermain,
tanpa merasa pelatihan tersebut dangkal, kekanak-kanakan atau hambar.
Pada intinya belajar bisa optimal jika keempat
unsur SAVI (Somatic, Auditori,Visual dan Intelektual) diterapkan dalam suatu
peristiwa pembelajaran. Jadi dalam pembelajaran eduataiment sangat diperlukan
pendekatan SAVI, agar pembelajaran yang sejati dapat berlangsung dan dapat
meningkatkan pembelajaran pada semua peserta didik.
F.
Langkah-langkah Pembelajaran dengan
metode Edutainment Belanbe
Langkah-langkah
pembelajaran dengan menggunakan metode Edutainment Belanbe adalah
sebagai berikut :
1.
Guru menyiapkan alat-alat
audio Visual untuk memutar film yang berkaitan dengan materi pembelajaran.
2.
Kelas
didisain yang bagus sehingga peserta didik merasa nyaman.
3.
Guru memutarkan film untuk peserta
didik serta memberikan penjelasan tentang film tersebut.
4.
Setelah selesai pemutaran film,
siswa dibagi menjadi beberapa kelompok untuk mendiskripsikan tentang film yang
telah ditayangkan dengan diiringi musik .
5.
Nama kelompok dibuat sesuai dengan
materi yang terkait, misalnya tokoh yang ada dalam film yang ditayangkan.
6.
Demonstrasi, siswa diajak bermain
misalnya dengan Snowball Throwing (Melempar bola salju) dengan
cara setiap kelompok menyiapkan satu pertanyaan yang ditulis dalam kertas
kosong, lalu kertas tersebut digulung dimasukkan ke dalam bola yang berwarna
-warni yang di belah kemudian di tutup dengan isolatif. Setiap kelompok
mendapat kesempatan untuk melempar bola tersebut ke kelompok lain dengan waktu
yang sudah ditentukan oleh guru. Kelompok lain berusaha menangkap bola
tersebut. Siswa yang terakhir memegang bola mendapat kesempatan untuk menjawab
pertanyaan dari bola tersebut. Atau boleh juga dilaksanakan dengan permainan
lainnya seperti Role Play, Card Sort, debat berantai atau
lainnya. Karena pada dasarnya metode Edutainment Belanbe merupakan
bentuk nyata dari model PAIKEM.
7.
Dengan
bimbingan guru masing-masing kelompok merangkum materi.
G. Manfaat
Metode Edutainment Belanbe
Menurut
Vogotsky sebagaimana dikutip oleh Ratna Megawangi, bermain dan aktivitas yang
bersifat konkrit dapat memberikan momentum alami bagi anak untuk belajar
sesuatu yang sesuai dengan tahap perkembangan umurnya (age – apropriate),
dan kebutuhan spesifik anak (individual needs ) bermain adalah
cara yang paling efektif untuk mematangkan perkembangan anak pada usia dini (Pre-
operational thinking ), dan pada masa sekolah dasar (concrete
operational thinking).Metode Edutainment belanbe sebagai suatu metode pembelajaran
yang dirancang melalui suatu prinsip permainan dengan menggunakan alat peraga
yang bisa menghibur dapat mengfungsikan kedua belahan otak kanan dan otak kiri
secara seimbang. Karena secara anatomis, otak kanan dan otak kiri memiliki
perbedaan yang berakibat pada perbedaan fungsi dan cara kerja di antara
keduanya.




2 komentar:
bukunya ada mb yg tentang langkah-langkah metode edutainment?
untuk edutainment video itu biasanya berapa lama mbk?
Posting Komentar